Jumat, 29 Juli 2011

Yaoi, yuri? Aaaaaaaagh!

Heya Everybody...for your information....I'm not a fujoshi.

Duh...dari kata-katanya sudah ketauan isi dari curhatan terbaruku pasti. Yup! Exactly! This is my latest curhatan, and what! I post about yaoi and yuri?? Oh Tina you've lost your mind! *Well I don't...apparently*
Sejujurnya, aku termasuk orang yang sangat sensitif dengan masalah ini, karena televisi luar sedang menggembar-gemborkan budaya gay parade *bahkan Mbak Hikki ikut-ikutan juga di lagunya yang "On and On"*. I'm openly against it. I'm so sorry for the inconvenience....hehehehehe.
Sebenarnya ada beberapa komik Yaoi and yuri yang menurutku bagus ceritanya, hanya saja entah mengapa aku merasa aneh setelah membaca yaoi dan yuri. Yaoi, adegan cintanya 'dihancurkan' oleh adegan seks..dan yang bikin bete mengapa memaksa cowok yang disukai untuk berhubungan seks itu keren. Aslinya khan pasti menyakitkan banget. Memang itu hanya karya fantasi, tapi tetep aja lah menyakitkan. Contohnya Fujimi Orchestra, aku kasihan banget sama tokoh Yuuki. Dah jelas-jelas dia straight kok digituin ma Kei, kan jadi kasihan. Sepertinya aku ikut merasa berdosa waktu lihat Yuuki digituin. Men are still men, and they have feelings. Ah, to all fujoshi, come on!!!
Aku pertamanya juga dulu simpati ma orang-orang dengan pengalaman seperti di bawah ini. Dan membaca cerita tentang mereka membuatku penasaran *bukan ketagihan* dengan asal muasal homoseksualitas. Bagusnya, rasa penasaranku itu terobati sudah dengan membaca banyak artikel yang mendukung pernyataanku bahwa homoseksualitas bukan mutlak adanya. Thanks to His Almighty Allah yang sudah mempertemukanku dengan Carl Jung dan his apprentice Yoram Kaufmann, aku jadi tahu kalau banyak kasus homoseksualitas bisa dipecahkan. Tapi semua itu tergantung sama individunya, niat engga menjadi heteroseksual. kalau engga niat ya sama aja bo'oong laaah.....
Yuri juga..kadang-kadang aku ngga ngeh ma ceritanya. Mending shojo-ai.

Talking about sense and non-sense, aku entah mengapa lebih respect sama intersex. bahkan kagum. Kok bisa ya bertahan dengan banyak tudingan. And I so disagree to all people that include the intersex people as lesbian or gay. They are not! Gay and lesbian have choices to change their sexuality (sorry again for the inconvenience), intersexs? They don't. Dan secara gw orang Islam gitu, dalam agama gw keberadaan mereka diakui, dianggap sebagai bagian dari cewek (gender default manusia). Bahkan bisa jadi imam. Kok jadi gwe-lu gwe-lu ya??
OK, back to yaoi and yuri. Katanya yaoi secara dasarnya mmebicarakan tentang cinta, tapi entah mengapa aku merasa kalau engga ya? Aku merasanya malah cuma seks ajah. Kalau yuri iya juga sih...tapi masih daleman yuri dibanding yaoi.
Secara pribadi dan logika, aku juga heran ma fujoshi. Aku pernah ngrasain jadi mereka, mungkin setidaknya dalam jangka waktu 3 bulan. kayanya kalau dua orang cowok cakep dipasangkan, rasanya gimanaaa gituu...
Tapi lama-lama kok ga logis banget. Cuma untuk alasan sirik ajah (sirik sama karakter utama cewek di shojo komik), kita membiarkan dua orang cowok cakep 'bercinta'????? heeeeey! Bukannya itu sama saja bunuh diri? masih mending kalau mereka berdua straight, kan bisa direbut dari tokoh utama ceweknya *nahhh...the evil Tina* atau kita bisa berfantasi punya cowok yang lebih keren, daripada membiarkan dua cowok cakep saling memilih.
Ah ya sudah...segera diposkan! Bye!

Tidak ada komentar: