Jumat, 06 Juli 2012

Why I am a Heterosexual: Bukan Sekedar Cinta Romeo dan Juliet

Assalamu'alaikum!

Sebenarnya postan ini mau aku unggah ke blog yang lain, tapi gimana yah, ini lebih ke opini benar-benar pribadi daripada teoritis doang, jadi aku postkan disini. Banyak yang beujar bahwa heteroseksualitas (perasaan erotis lelaki thd perempuan dan sebaliknya) adalah 100% alami, adalah takdir alam. Mereka bilang "we are born this way". Yah, setidaknya mungkin sebagian besar dari kita-kita yang heteroseksual merasanya begitu, itu sudah kehendak alam lah. Atau ada yang bilang, yah hubungan sesama jenis kan terlarang di dalam agama tertentu. Tapi masih adalah di antara kita yang berani mengulik mengapa kita punya seksualitas seperti ini?

Heteroseksualitas : Pertanyaan besar di Kepala(ku)
Contoh kasus (sok-sokan):

Mengapa teman cewekku yang logis, efisien dan cantik bisa begitu klepek-klepek sama cowok yang notabene menyebalkan, wajah pas-pasan dan suka selingkuh? Padahal kan ga logis, tapi temanku itu bisa merelakan sisi logisnya melayang hanya demi pacarnya yang amburadul itu. 
Di lain pihak, teman cowokku yang cowok lugu, pandai dan populer malah memilih cewek yang pacarnya banyak dan playgirl sejati, tapi masih juga sabar. Dimana daya tariknya? Mengapa bisa begitu? Padahal andai pacar teman perempuan saya itu adalah seorang perempuan, tidak mungkin teman perempuan saya yang logis itu masih mau berkawan dengannya. Begitu juga dengan teman cowok saya yang lugu itu, Ia paling ogah temenan sama playboy karena suka bikin masalah. Hanya karena faktor lawan jenis kok bisa begitu yah?? Idealisme pun direlakan. Kebanyakan orang bilang, itulah cinta. 

Cinta heteroseksual sebenarnya bukan misteri, dan bukan hanya takdir alam. Tuhan menentukan mengapa lelaki harus menjadi pasangan perempuan semenjak pertama manusia diciptakan. Tahukan kalian, mungkin hanya mamalis yang betina (perempuannya) yang tidak dapat melahirkan tanpa dibuahi. Beberapa spesies kadal bisa beranak bertelur (ovovivipar) tanpa si jantan. Hiu juga bisa beranak tanpa sang jantan. Kalau Tuhan menginginkan, ia bisa saja menciptakan perempuan saja, tanpa lelaki, bila tujuan penciptaan hanyalah membuat manusia beranak pinak. Namun kenyataannya, terdapat binatang-binatang jantan, dan juga manusia lelaki. Pertanyaan pun telah terjawab, karena itulah yang Ia inginkan. 
Namun bagi yang pingin tahu lebih dalam lagi, aku kutip saja beberapa temuan ilmiah. 
  1. Pada beberapa eksperimen terhadap monyet (monkeys) jantan yang dibesarkan oleh 'ibu pengganti" berupa kain dengan gambar monyet betina, si monyet jantan akan selalu berlari mencari perlindungan pada 'ibu pengganti' ketika dia mengalami ancaman (seperti bertemu predator, kelaparan, dsb). Ketika dibuat eksperimen si monyet dengan ibu pengganti akan memiliki performa yang lebih buruk dalam mencari pasanagan (monyet betina) dibandingkan kelompok kontrol yang terdiri dari monyet yang diasuh oleh ibu monyet yang sesungguhnya. Dapat disimpuklkan bahwa tingkat performa heteroseksual monyet dipengaruhi oleh siapa yang mengasuh dan bagaimana pola pengasuhannya. Ya bedalah antara yang cuma kain doang dengan monyet asli. 
  2. Beberapa kasus konseling pada manusia (yang terkadang aku alami sendiri adalah) cewek/wanita cenderung memilih lelaki yang memiliki kriteria sesuai dengan nilai-nilai yang dia anut. Jangan bilang ini genetik dan biasa. Ini masalah serius bro. Misalnya ajah Si A suka cowok yang kebapakan dan pengertian karena kurang kasih sayang sama bapaknya, cewek B suka cowok manja karena sudah terbiasa diandalkan oleh adek-adek lelakinya, dsb, Tapi ini juga bisa terbalik, jika suasana rumah dan pola pembelajaran individunya beda. Misalnya aja, si A yang kurang kasih sayang sama bapaknya milih cowok yang punya nasib serupa, walau engga seperti cowok idealnya. Faktor sosiologis juga berpengaruh, kaya tingkat menarik/tidaknya penampilan individu, dll.
  3. Aku sudah tahu mengapa orang menjadi homoseksual adalah karena memerlukan figur lain yang dapat mengafirmasikan maskulinitasnya (dari kasus Michael dan hasil uji statistik sih), kalau heteroseksual aku malah tahunya setelah tahu alasan orang memiliki SSA. Orang hetero (OSA- opposite sex-attraction), menyukai lawan jenis karena proses pembelajaran awal terhadap figur ayah atau ibu (ayah & ibu kandung, ayah& ibu angkat, paman-bibi, dll...asal bisa membuat pengganti Arketipe Ayah dan Arketipe IBu) yang sehat dan sempurna. Orang dengan OSA/ hetero itu punya persepsi yang 'adil' tentang gender. Bisa menyayangi sesuai proporsinya tanpa ada perasaan cemburu berlebihan dan benci yang terpendam. ini semua ada penelitiannya.
Banyak sih mengapa kita jadi hetroseksual, ga asala tertarik. Kita perlu berterimakasih sama ayah ibu kita yang sudah membesarkan kita menjadi orang yang dapat berfungsi dengan baik. Di penelitiannya itu banyak yang mengungkapkan kalau primata jantan tanpa ibu bisa mati karena kurang kasih sayang, dan juga primata betina, bila diasuh tanpa kehadiran ibu, malah jadi brutal dan tak berperasaan. Lucu kan? Ternyata emang lebih kuat cewek yah.....