Assalamu'alaikum wr, wb!
Sejujurnya, pada awalnya aku membuat blog ini dengan alasan ingin mengutarakan pendapatku tentang dunia secara lebih serius. Tetapi sekarang kelihatannya aku tidak dapat melakukannya. Aku bertekad membuatnya sendiri di blogku di myspace saja. Manusia dan teka-tekinya membuatku pusing. Benar-benar pusing. Bagaimana tidak, kita semua sudah melihat bagaiaman orang-orang yang didefinisikan lembut, baik dan toleran ternyata pelaku bom bunuh diri. Ada juga orang yang begitu mencintai agamanya hingga mudah sekali terperangkap dalam jeratan tipu daya mati syahid. Saya bukan orang yang relijius (walaupun saya berjilbab), saya selalu beranggapan begitu karena saya selalu membandingkan keimanan saya dengan teman-teman saya yang bercadar atau yang bergamis atau yang berjilbab lebar. Namun sering juga saya memenemukan ternyata 'tampilan' itu sangat menipu. Orang dengan jilbab besar mungkin tidak lebih tahu agama dibandingkan saya. Saya ingat ketika salah satu kawan saya yang berjilbab lebar dengan naifnya membuka isi SMS saya dan kemudian berusaha mencari tahu tentang apa yang terjadi dengan saya. Lucu kan?
Padahal itu bukanlah hal yang baik untuk dilakukan. Sepertinya dualis sekali...yang satu 'baik' dan yang satu buruk. Sejujurnya bersikap 'manis' bukanlah hal yang baik. Rasululllah SAW menyarankan dan mencontohkan kita untuk bersikap jujur dan apa adanya. Lebih baik mengatakan kebenaran daripada sekedar bersikap manis kan?
Orang Jawa, kata ayah saya harus tahu tata krama. Secara kasarnya orang Jawa harus sedikit munafik. Mungkin kata inilah yang sering tersirat di benak orang non-Jawa tentang orang Jawa. Berbicara jarang yang benar-benar dari hati, begitulah orang Jawa. Mungkin sikap ini aman pada awalnya, tapi siapa tahu kemunafikan kita menjadi bumerang sendiri bagi kita. Senjata makan tuan, begitu nenek moyang kita berujar.
Teka-teki manusia juga membuat saya terus berpikir. Hari ini saya menonton acara di NHK World dalam rangka memperingati pengeboman Hiroshima dan Nagasaki. Back To Ground Zero kalau tak salah nama acaranya. Ternyata oh ternyata pasukan yang ditugaskan untuk mengebom juga merasakan sedikit penyesalan telah mengebom kedua kota tersebut. Lucu kiranya kita orang Indonesia bersyukur atas pengeboman itu yang juga memicu kemerdekaan kita. Namun saya sebagai seorang Muslim tentu percaya pada takdir Allah Azza wa Jalla. Tanpa pengeboman itu pun, kita bisa memenangkan pertarungan melawan Jepang. Ah begitulah manusia...teka-tekinya tiada akhir..hehehe.
Wassalamu'alaikum wr.wb
Rabu, 12 Agustus 2009
Minggu, 09 Agustus 2009
Plagiarisme: Jangan Lagi Dong!
Assalamu'alaikum wr. wb!
Duuh..aduduh..ternyata oh ternyata banyak juga yah artis musik Indonesia yang plagiat? Kok begitu yah. Yang lagi panas-panasnya adalah D' Masiv yang dituduh njiplak sana-sini supaya bisa ngeboom dan disukai esp, oleh Produser. Sejujurnya aku bahkan menulis di diariku di komputer tentang hal ini. Sedih juga ya kalau 'virus' non-kreatif ini menghinggapi insan seni di negeri kita.
Dulu aku pernah kuliah di Fakultas Ilmu Budaya dan mendengar langsung dari dosen saya bahwa plagiarisme itu sering ditanggapi salah kaprah. Misalnya novel karya Hamka yang berjudul "Di Bawah Lindungan Ka'bah" yang katanya sangat terinspirasi oleh Majdulinnya Thaha Husain. Pak Sangidu (dosen saya) langsung berkata bahwa itu bukan plagiarisme, dalam bukunya (yang saya lupa judulnya), beliau menjelaskan secara panjang lebar tentang pengaruh Majdulin pada karya Hamka tersebut. Pengaruhnya cuma alur cerita, tetapi juga itu sudah diubah sedemikian rupa. Mungkin saking kagumnya pada cerita aslinya, akhirnya Hamka memutuskan untuk menyadurnya (bukan mengadapatasinya, seperti kata Iman vokalis JRock tentang pengaruh Laruku yang kental dalam karyanya). Jadi tentu terpengaruh itu OK saja, tetapi jangan sangat terpengaruh hingga mati-matian nyama-nyamain.
Daripada mengkritik tak ada akhir, mending saja saya langsung memberikan tips untuk para musisi yang ingin memberantas budaya plagiarisme yang kelihatannya sudah sangat tek-tek di hati manusia Indonesia. Sejujurnya, saya bukan musisi, bahkan saya tidak hapal tangga nada manapun (payah kan?). Tetapi saya memiliki pengetahuan unik yang mungkin perlu saya bagikan di blog ini. Langsung ke intinya aja yah!
1. Buatlah lagu dengan tangga nada yang tidak biasa. Sejujurnya saya agak sebal dengan komentar para musisi yang dengan naifnya (tetapi bukan Naif loh!) berkata bahwa notasi kan cuma ada 12 saja, jadi kemiripan itu wajar adanya. Cobalah buka Wikipedia dan cari artikel 'music scale'. Yang namanya tangga nada (music scale) itu ada bermacam-macam dan sejujurnya LEBIH DARI 12 NOTASI! Coba buka deh...dan pikiranmu pasti akan tergugah. Scale atau tangga nada kan aselinya dibuat untuk memudahkan musisi membuat musik, tapi jika kemudahan itu malah membuat musisi buntu dalam mengeksplorasi musik, maka tentu musisi perlu bersikap nekat dan membuat suatu terobosan baru demi terbentuknya musik baru. Langkah ini memang ekstrim, bisa-bisa bikin musisi bingung atau bahkan meragukan apakah musiknya bisa dijual. Tapi percaya deh, dimana ada kemauan, di situ ada jalan. Ingat Korn yang pitch dalam lagunya 'aneh' dan unik menjadi fenomena musik di Amerika kan, atau Debussy yang menciptakan nada aneh untuk mengembalikan gerakan impresionisme dalam musik Eropa. Percaya ga percaya, dia menggunakan pola pentatonic (a.k.a slendro) Gamelan Jawa yang diubah sedemikian rupa dengan sentuhan piano barat.
2. Gunakan instrumen baru dalam bermusik.
Langkah ini luar biasa mudah bila engkau adalah insan musik Indonesia sejati. Indonesia punya kebudayaan yang kaya, percaya ga percaya budaya kita jugalah yang memperkaya budaya Barat pada awal abad 19. Tahukan Anda semua bahwa Muse menggunakan intro yang sangat mirip dengan intro Arabesque No. 1-nya Debussy yang terpengaruh oleh Gamelan Jawa? Dengarkanlah lagu Bliss baik-baik. Muse bahkan menggunakan synth yang terdengar seperti gaung angklung dalam interlude lagu tersebut. Kalau Muse saja bisa, mengapa kita yang mengakui angklung dan gamelan sebagai musik kita tak menggunakannya dalam musik kita. Absurd bukan?
3. Mulailah mendengarkan World Music
Salah satu faktor mengapa musisi Indonesia bisa sangat terinspirasi oleh musisi Barat (Britpop, American rock) adalah karena musisi Indonesia terlalu sering mendengarkan dan menyanyikan lagu itu. Coba deh buka situs www. download.com di sesi music. Ada banyak mp3 gratis yang bisa dijadikan acuan.
4. Kembali ke akar
Apa yang membuat Anda menjadi musisi? Sekedar mau terkenal? Atau emi musikalitas? Sesungguhnya aku sering merasa geli dengan beberapa artis Indonesia yang berkoar akan go Internasional dengan menyanyikan lagu pop yang mencontek gaya penyanyi Barat. Saya tak perlu menyebutkan siapa. Tapi yang benar saja? Jika nenek moyang kita bisa begitu kreatif, mengapa kita tidak bisa. Nenek moyang kita bisa membuat instrumen aneh dari bambu bernama angklung, juga seperangkat metal yang dipukul yang diberi nama Gamelan. Ada juga Sasando, dan lainnya (ingat pelajaran IPS kelas 5 kan?), tapi kok kita buat musik yang sama seperti mereka saja susah. Kembali ke akar, dan cobalah gunakan synth dengan efek suara instrumen aneh. Pernah dengar Gackt? Dalam lagunya Illness Illusion(album Mars), Gackt membuat lagu yang sebenarnya lagu jpop biasa yang ear-catching, tapi aransemennya yang istimewa. Coba dengar deh.
Itu beberapa tips yang bisa dibuat. Percaya deh, jika Anda sebagai Musisi bersatu, Anda bisa mengendalikan industri musik, bukan industri musik yang mengendalikan Anda. Cheers!
Wassalamu'alaikum wr. wb
Duuh..aduduh..ternyata oh ternyata banyak juga yah artis musik Indonesia yang plagiat? Kok begitu yah. Yang lagi panas-panasnya adalah D' Masiv yang dituduh njiplak sana-sini supaya bisa ngeboom dan disukai esp, oleh Produser. Sejujurnya aku bahkan menulis di diariku di komputer tentang hal ini. Sedih juga ya kalau 'virus' non-kreatif ini menghinggapi insan seni di negeri kita.
Dulu aku pernah kuliah di Fakultas Ilmu Budaya dan mendengar langsung dari dosen saya bahwa plagiarisme itu sering ditanggapi salah kaprah. Misalnya novel karya Hamka yang berjudul "Di Bawah Lindungan Ka'bah" yang katanya sangat terinspirasi oleh Majdulinnya Thaha Husain. Pak Sangidu (dosen saya) langsung berkata bahwa itu bukan plagiarisme, dalam bukunya (yang saya lupa judulnya), beliau menjelaskan secara panjang lebar tentang pengaruh Majdulin pada karya Hamka tersebut. Pengaruhnya cuma alur cerita, tetapi juga itu sudah diubah sedemikian rupa. Mungkin saking kagumnya pada cerita aslinya, akhirnya Hamka memutuskan untuk menyadurnya (bukan mengadapatasinya, seperti kata Iman vokalis JRock tentang pengaruh Laruku yang kental dalam karyanya). Jadi tentu terpengaruh itu OK saja, tetapi jangan sangat terpengaruh hingga mati-matian nyama-nyamain.
Daripada mengkritik tak ada akhir, mending saja saya langsung memberikan tips untuk para musisi yang ingin memberantas budaya plagiarisme yang kelihatannya sudah sangat tek-tek di hati manusia Indonesia. Sejujurnya, saya bukan musisi, bahkan saya tidak hapal tangga nada manapun (payah kan?). Tetapi saya memiliki pengetahuan unik yang mungkin perlu saya bagikan di blog ini. Langsung ke intinya aja yah!
Tips Untuk Membuat Lagu Orisinil
1. Buatlah lagu dengan tangga nada yang tidak biasa. Sejujurnya saya agak sebal dengan komentar para musisi yang dengan naifnya (tetapi bukan Naif loh!) berkata bahwa notasi kan cuma ada 12 saja, jadi kemiripan itu wajar adanya. Cobalah buka Wikipedia dan cari artikel 'music scale'. Yang namanya tangga nada (music scale) itu ada bermacam-macam dan sejujurnya LEBIH DARI 12 NOTASI! Coba buka deh...dan pikiranmu pasti akan tergugah. Scale atau tangga nada kan aselinya dibuat untuk memudahkan musisi membuat musik, tapi jika kemudahan itu malah membuat musisi buntu dalam mengeksplorasi musik, maka tentu musisi perlu bersikap nekat dan membuat suatu terobosan baru demi terbentuknya musik baru. Langkah ini memang ekstrim, bisa-bisa bikin musisi bingung atau bahkan meragukan apakah musiknya bisa dijual. Tapi percaya deh, dimana ada kemauan, di situ ada jalan. Ingat Korn yang pitch dalam lagunya 'aneh' dan unik menjadi fenomena musik di Amerika kan, atau Debussy yang menciptakan nada aneh untuk mengembalikan gerakan impresionisme dalam musik Eropa. Percaya ga percaya, dia menggunakan pola pentatonic (a.k.a slendro) Gamelan Jawa yang diubah sedemikian rupa dengan sentuhan piano barat.
2. Gunakan instrumen baru dalam bermusik.
Langkah ini luar biasa mudah bila engkau adalah insan musik Indonesia sejati. Indonesia punya kebudayaan yang kaya, percaya ga percaya budaya kita jugalah yang memperkaya budaya Barat pada awal abad 19. Tahukan Anda semua bahwa Muse menggunakan intro yang sangat mirip dengan intro Arabesque No. 1-nya Debussy yang terpengaruh oleh Gamelan Jawa? Dengarkanlah lagu Bliss baik-baik. Muse bahkan menggunakan synth yang terdengar seperti gaung angklung dalam interlude lagu tersebut. Kalau Muse saja bisa, mengapa kita yang mengakui angklung dan gamelan sebagai musik kita tak menggunakannya dalam musik kita. Absurd bukan?
3. Mulailah mendengarkan World Music
Salah satu faktor mengapa musisi Indonesia bisa sangat terinspirasi oleh musisi Barat (Britpop, American rock) adalah karena musisi Indonesia terlalu sering mendengarkan dan menyanyikan lagu itu. Coba deh buka situs www. download.com di sesi music. Ada banyak mp3 gratis yang bisa dijadikan acuan.
4. Kembali ke akar
Apa yang membuat Anda menjadi musisi? Sekedar mau terkenal? Atau emi musikalitas? Sesungguhnya aku sering merasa geli dengan beberapa artis Indonesia yang berkoar akan go Internasional dengan menyanyikan lagu pop yang mencontek gaya penyanyi Barat. Saya tak perlu menyebutkan siapa. Tapi yang benar saja? Jika nenek moyang kita bisa begitu kreatif, mengapa kita tidak bisa. Nenek moyang kita bisa membuat instrumen aneh dari bambu bernama angklung, juga seperangkat metal yang dipukul yang diberi nama Gamelan. Ada juga Sasando, dan lainnya (ingat pelajaran IPS kelas 5 kan?), tapi kok kita buat musik yang sama seperti mereka saja susah. Kembali ke akar, dan cobalah gunakan synth dengan efek suara instrumen aneh. Pernah dengar Gackt? Dalam lagunya Illness Illusion(album Mars), Gackt membuat lagu yang sebenarnya lagu jpop biasa yang ear-catching, tapi aransemennya yang istimewa. Coba dengar deh.
Itu beberapa tips yang bisa dibuat. Percaya deh, jika Anda sebagai Musisi bersatu, Anda bisa mengendalikan industri musik, bukan industri musik yang mengendalikan Anda. Cheers!
Wassalamu'alaikum wr. wb
Label:
Anti-plagiarisme,
D' Masiv,
Debussy,
Korn,
Muse,
Plagiarisme,
Tips
Langganan:
Komentar (Atom)